FGD Penyusunan Visi dan Misi Prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir: Wujudkan Program Studi Unggul, Inovatif, dan Berdaya Saing Global

Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT) menggelar kegiatan Focus Group Discussion (FGD) dalam rangka penyusunan dan penyempurnaan visi serta misi program studi sebagai langkah strategis menentukan arah pengembangan ke depan. Kegiatan ini berlangsung dengan melibatkan berbagai unsur penting, mulai dari pimpinan fakultas, dosen, mahasiswa, alumni, hingga stakeholder. Hadir dalam kesempatan tersebut unsur pimpinan Fakultas Ushuluddin, yakni Dekan Dr. Hj. Rina Rehayati, M.Ag, Wakil Dekan I Drs. Iskander Arsenal, Ph.D, Wakil Dekan II Dr. Afrial Nur, MIS, dan Wakil Dekan III Dr. Agus Firdaus Candra. Kehadiran para pimpinan fakultas menjadi bentuk dukungan penuh terhadap penguatan mutu dan arah kebijakan Prodi IAT ke depan.

FGD dipaparkan langsung oleh Ketua Program Studi IAT, Dr. Jani Arni, M.Ag, dan dipandu oleh moderator Nasrul Fatah, M.Ag. Suasana diskusi berlangsung dinamis dan penuh antusiasme, dengan berbagai gagasan serta masukan konstruktif dari peserta. Forum ini menjadi ruang bersama untuk merumuskan visi dan misi yang relevan dengan tantangan zaman, kebutuhan masyarakat, serta perkembangan dunia akademik global.

Adapun visi Prodi IAT adalah “Menjadi pusat keunggulan akademik yang integratif, inovatif dan berdaya saing global di bidang Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir untuk mewujudkan masyarakat berkeadaban.” Untuk mewujudkan visi tersebut, Prodi IAT menetapkan lima misi utama, yaitu menyelenggarakan pendidikan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir yang terintegrasi dengan teknologi dan keterampilan masa depan, mengembangkan penelitian inovatif yang berorientasi pada solusi persoalan bangsa, melaksanakan pengabdian kepada masyarakat yang berkelanjutan, mewujudkan tata kelola program studi yang bermutu, serta memperkuat jejaring kemitraan nasional dan internasional.

Dalam sesi diskusi, peserta menyoroti pentingnya penyusunan visi dan misi yang tidak hanya bersifat ideal, tetapi juga memiliki arah implementasi yang jelas dalam jangka pendek, menengah, dan panjang. Selain itu, visi dan misi program studi diharapkan tetap selaras dengan arah pengembangan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau sebagai institusi induk. Visi dan misi dinilai perlu bersifat konsisten, sementara strategi pencapaiannya dapat disesuaikan melalui rencana operasional yang dinamis mengikuti perkembangan zaman.

Fikri Mahmud, Dosen Prodi IAT, menyampaikan bahwa Prodi IAT perlu memiliki gambaran yang jelas tentang posisi dan capaian yang ingin diraih dalam 10 hingga 20 tahun mendatang. Menurutnya, seluruh kegiatan penelitian dan pengabdian masyarakat harus benar-benar mengacu kepada visi dan misi prodi. Penelitian dosen dan mahasiswa juga perlu dirancang lebih sistematis dan berkelanjutan, sehingga setiap tahun memiliki target capaian akademik yang jelas dan terukur.

Sementara itu, Hidayatullah, Dosen Prodi IAT, menekankan pentingnya pelibatan mahasiswa dalam penelitian dosen guna membangun budaya akademik yang kuat sejak dini. Ia juga menyoroti kecenderungan tema penelitian mahasiswa yang masih berulang, terutama pada kajian Living Qur’an. Menurutnya, mahasiswa perlu diarahkan untuk memperbanyak penelitian kepustakaan (library research) agar memiliki penguasaan lebih mendalam terhadap khazanah tafsir klasik maupun kontemporer. Selain itu, mahasiswa semester awal dinilai perlu lebih banyak dibekali dasar-dasar keilmuan, bukan sekadar tugas makalah, sehingga fondasi akademik mereka semakin kuat.

Masukan juga datang dari alumni, Muhammad Hendrik Pratama, yang menilai pentingnya keseimbangan antara penguasaan keilmuan klasik dan modern. Mahasiswa IAT, menurutnya, perlu memiliki kemampuan bahasa Arab dan perangkat ilmu alat agar mampu mengakses literatur klasik secara langsung. Di sisi lain, mahasiswa juga harus dibekali kompetensi modern agar mampu bersaing di berbagai sektor profesi.

Alumni lainnya, Hendrizal, mengusulkan adanya program inkubasi bagi mahasiswa menjelang kelulusan selama tiga bulan sebagai bekal memasuki dunia kerja dan pengabdian masyarakat. Program tersebut dapat diarahkan pada pembinaan intelektual muda, wirausaha muda, maupun calon aparatur sipil negara. Ia juga menyoroti pentingnya menumbuhkan budaya organisasi mahasiswa sebagai bagian dari pembentukan kepemimpinan dan daya saing global lulusan.

Fauzan Azima, alumni tahun 2019, menilai masa pengabdian kepada masyarakat yang berlangsung selama tiga minggu masih terlalu singkat untuk menghasilkan dampak optimal. Selain itu, ia mendorong agar lulusan IAT memiliki peluang profesi yang lebih luas dan tidak hanya terfokus pada bidang keguruan semata.

Ririn, perwakilan dari al-Izhar School, menambahkan bahwa mahasiswa IAT perlu dibekali keterampilan praktis yang aplikatif di tengah masyarakat. Kemampuan public speaking, keberanian tampil di depan umum, serta keterampilan digital seperti membuat konten kreatif keagamaan dinilai sangat penting pada era saat ini. Bekal tersebut akan menjadi nilai tambah lulusan ketika terjun ke sekolah, lembaga sosial, maupun masyarakat luas.

Melalui FGD ini, Prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir menunjukkan komitmen kuat dalam membangun tata kelola akademik yang partisipatif, adaptif, dan berorientasi masa depan. Berbagai masukan dari pimpinan fakultas, dosen, mahasiswa, alumni, dan stakeholder menjadi fondasi penting dalam menyusun visi dan misi yang progresif serta mampu melahirkan lulusan unggul, berintegritas, dan siap berkontribusi di tingkat nasional maupun global. (AA)

 

Leave a Reply